navigasi

Senin, Maret 08, 2010

Bakso Cak Eko Ingin Go International

Tak hanya penyanyi Agnes Monica saja yang go international, ternyata waralaba bakso malang 'Cak Eko' juga ingin merambah dunia internasional. Waralaba milik Henky Eko Sriyantono yang akrab disapa Cak Eko ini ingin go international ke negara-negara ASEAN.

Cak Eko mengatakan rencananya untuk go international ini akan direalisasikan tahun 2010 ini. Namun rencananya ini tidak begitu mulus, dirinya sedang ngebut memenuhi persyaratan legal dan transfer pengetahuan.

"Karena harus transfer knowledege, legal, jadi 6 bulan itu paling cepat," katanya saat ditemui detikfinance di Franchise Expo di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (6/3/2010).

Maju terus pantang mundur adalah kalimat tersebut yang pantas terlontarkan untuk Henky Eko Sriyantono atau biasa dipanggil Cak Eko. Sepuluh kali gagal dalam berbisnis, rupanya tidak mengalahkan semangatnya untuk kembali memutar modalnya dalam dunia tersebut.

Cak Eko memulai bisnis bakso malangnya di sebuah pelataran Pujasera di Jatiwarna, Bekasi, Jawa Barat sekitar tahun 2006 dengan bermodalkan Rp 2,5 juta.

"Saya itu menjalankan bisnis dengan modal-modal kecil, tapi frustasi mah pasti pernah, modal jualan bakso awalnya Rp 2,5 juta. Saya cuma bikin gerobak, numpang di pujasera,bagi hasilnya 60% untuk saya 40% untuk yang punya tempat," ujarnya.

Sebelumnya, Cak Eko pernah merambah bisnis pakaian muslim, tanaman jahe, katering, kerajinan barang atik, dan sebagainya. Namun, karena penerimaannya tidak berjalan dengan lancar, dia menghentikan bisnis tersebut. Dengan bermodalkan hobi masaknya sejak SMA, Cak Eko mulai berinovasi ke dunia kuliner dengan membuat usaha bakso Malang tersebut.

"Gagalnya itu mungkin segmen yang saya bidik kurang, waktu katering karena konsumen bosan dengan menu yang saya putar-putar, cash flow-nya tidak harian jadi tidak lancar," ceritanya.

Hanya dalam kurun waktu 10 bulan, bisnis bakso Cak Eko berkembang dengan pesat. Sekitar Oktober 2006, dia mulai mengembangkan brand-nya melalui sistem franchise. Hingga saat ini sekitar 120 outlet Bakso Malang Kota "Cak Eko" tersebar di Indonesia.

"Alasannya untuk memperkenalkan brand dan bagi-bagi rezeki," tuturnya.

Untuk outlet yang tersebar itu, dirinya memberikan bakso dan olahan siomay dan batagor dengan bumbu-bumbu yang telah disiapkan secara instan dalam bentuk bubuk. Terdapat 3 tempat produksi untuk memenuhi permintaan dan suplai ke outlet-outlet.

"Ada 3 tempat produksi, Surabaya untuk menyuplai ke Indonesia Timur, Sidorjo untuk Indonesia Tengah, dan Jakarta untuk Indonesia Barat. Resep rahasia ada keluarga yang saya percaya untuk meng-handle di 3 tempat itu jadi karyawan tidak tahu,"ungkapnya.

Kesuksesan Cak Eko membuat dirinya dipanggil untuk berbagi pengalaman dalam sekolah enterpreneurship bersama Rhenald Khasali. Dia bergabung dalam sekolah ini agar tidak ada orang yeng mengalami pengalaman buruk seperti dirinya dalam berbisnis.

"Supaya mereka tidak mengalami hal yang sama dengan saya sampai 10 kali gagal," kenangnya.

Menurut Cak Eko, kegagalan dalam berbisnis itu bisa disebabkan beberapa hal, seperti kesalahan memilih mitra. Selain itu, bisnis yang pendapatannya tidak harian juga bisa berpotensi kegagalan. Begitu pun karena tidak memisahkan keuangan pribadi dengan bisnis.

"Saya waktu itu tidak memisahkan uang pribadi dan usaha, jadinya kacau," jelasnya.

Cak Eko mengimbau dalam berbisnis, jika terjadi kenaikan harga, sebaiknya pebisnis jangan terlalu terburu-buru menaikkan harga, karena daya beli masyarakat belum tentu naik. Selain itu, pemula sebaiknya jangan terpengaruh dengan iming-iming keuntungan besar dalam berbisnis padahal mereka tidak tahu ilmu mengenai bidang yang akan digelutinya itu.

"Banyak yang tidak tahu ilmu langsung terjun, hanya diming-imingi keuntungannya karena saat ini banyak yang ingin sukses secara instan, prosesnya tidak dilewati langsung lompat-lompat saja. Ini yang jadi masalah," jelasnya.

Untuk mengatasi kompetitor, Cak Eko menyarankan untuk memberikan perbedaan dalam kualitas produk. Hal ini memerlukan inovasi. Selain itu, perlunya penguatan brand melalui promosi.

"Untuk mengatasi kompetitor, menciptakan perbedaan dengan kompetitor melalui kualitas dan promosi. Kuncinya di inovasi dan menjaga kualitas," ujarnya.

detikcom - Minggu, 7 Maret

Tidak ada komentar: