navigasi

Selasa, Mei 18, 2010

Adu Siasat dan Strategi pada Putaran II Pilkada Medan

MESKI Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan belum memutuskan secara resmi hasil Pemilihan kepala daerah secara langsung (Pilkadasung) putaran pertama pada 12 Mei 2010 lalu,

namun dari hitungan cepat dilakukan sejumlah tim pemenangan calon walikota dan wakil walikota Medan serta Panitia Pengawas Pilkadasung Kota Medan secara "kasat-mata" hasilnya sudah dapat diprediksi dan diyakini publik tidak akan jauh berbeda dengan perhitungan resmi KPU terlaksana, Senin (17/5). Beberapa hal penting menyangkut Pilkada berbiaya Rp.55 milyar lebih (sampai putaran kedua) itu di antaranya bahwa Pilkada Kota Medan berlangsung dua putaran, karena dari 10 calon yang bertarung tidak satupun meraih angka perolehan suara 30 persen sesuai ketentuan UU. Selain itu dari perhitungan tersebut juga diketahui, sebagaimana ketentuan dua calon walikota dan wakil yang meraih suara tertinggi yakni Drs. Rahudman MM - Drs. H. Eldin Dzulmi, MSi serta Dr. Sofyan Tan - Nelly Armayanti berhak maju ke putaran berikutnya yang kembali digelar KPU pada 16 Juni 2010 nanti.

Majunya dua kandidat calon Walikota dan Wakil Walikota Medan itu pada putara kedua nanti, sudah dapat diprediksi kedua tim sukses (TS) akan berupaya bagaimana bisa sukses mendulang suara dan keluar sebagai pemenang sehingga calon yang diusung jadi Walikota dan Wakil Walikota Medan masa bakti 2010-2015. Tentu adu strategi dan kelihaian TS akan sangat berperan dan cukup menentukan kemenangan. Data mengenai kelemahan dan keunggulan masing-masing kandidat juga sudah diketahui serta jadi bahan diskusi dan analisis untuk modal bertarung pada pilkada langsung kedua digelar kota ini setelah tumbangnya rezim Orde Baru. Termasuk pula upaya merangkul suara dari 8 kandidat yang belum meraih suara siginifikan dalam Pilkada 12 Mei 2010 lalu.

Kubu TS calon yang kalah tentu punya cara tersendiri untuk menyatukan visinya dengan tim Rahudman dan Sofyan Tan. Begitu pula kedua kandidat punya strategi dan gaya tersendiri pula untuk merangkul 8 kandidat yang sudah tersisih di pertarungan awal. Rahudman - Eldin serta Sofyan Tan - Nelly yang pada putaran pertama hanya mampu mendulang 22,1 persen dan 20,67 persen atau total sekitar 42,77 persen suara (sesuai perhitungan Panwas Pilkada Kota Medan) tentu akan berupaya mengumpulkan suara maksimal dari 8 pendukung setia calon yang tersisih yang memiliki 67,2 persen suara lagi. Suara yang cukup besar itu tentunya bisa diperoleh dengan berbagai upaya, termasuk melalui cara lobi-lobi. Selain itu kedua tim sukses juga diharapkan tidak mengabaikan masyarakat yang pada putaran pertama lalu tidak memilih. Potensi suara dari lebih 60 persen lagi warga golput sesuai Daftar Pemilih Tetap (DPT) mencapai 1.961.155 jiwa, namun yang datang mencoblos di 3.897 Tempat Pemungutan Suara cuma 725.202 (data panwas) tersebut, cukup potensial untuk digarap.

Jadi sebenarnya banyak peluang untuk menang dengan memanfaatkan berbagai strategi dan menepis tata cara yang tidak etis. Bagaimana strategi dan upaya apa yang akan dilaksanakan masing-masing TS, dinilai sah-sah saja sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang dan satu lagi yang sangat penting dan peka yakni terkait ketersinggungan isu Suku, Ras dan Agama (SARA). Hal itu perlu jadi peringatan bagi kita semua, karena sensitivitas masing-masing pemeluk agama serta ras akan sangat tinggi dan sangat rawan jadi pemicu konflik bagi dua kubu yang berbeda. Peringatan itu sangat wajar untuk jadi bahan kajian kita bersama karena mengingat kedua calon walikota yang maju dalam putaran kedua ini punya latar belakang berbeda. Kita khawatir jangan pula persoalan besar yang sudah berhasil dilalui dengan sukses, namun saat dipenghujung kerja besar yang sudah diperoleh masyarakat kota Medan yang berhasil mengantarkan pilkada damai jadi berantakan dan jadi pemicu sumber konflik dikemudian hari.

Karenanya kedua TS diharapkan memiliki "penciuman" yang tajam terkait isu-isu sensitive yang diperkirakan bakal menuai konflik. Adu program dalam visi dan misi serta ketajaman strategi dalam meraih kemenangan sebagaimana layaknya sebuah "pertempuran" di "medan laga" dinilai dapat dibenarkan dan lazim dimanfaatkan tim yang bertarung dalam arena pertarungan pemilihan kepala daerah. Namun kita tentunya sangat menentang berbagai bentuk penyebaran isu-isu "black campaign" dan praktek politik uang lebih mengedepan. Masyarakat kota ini tentunya menginginkan pemimpin yang terbaik dari yang baik untuk jadi Walikota dan Wakil Walikota Medan mendatang. Untuk memperoleh hasil itu tentunya masing-masing kandidat akan berjuang lebih fair, melalui cara-cara bersih yang tidak terkontaminasi kepada hal-hal yang tabu dan dapat menjerumuskan kedua pihak dalam pertarungan yang tidak wajar. Bukan saja merugikan kedua kandidat, tapi juga merugikan seluruh masyarakat kota Medan. Karenanya kedua kandidat diharapkan lebih mengedepankan persatuan dan kesatuan serta siap menang dan lebih siap lagi jika kalah.


Harian Analisa

Kamis, Maret 11, 2010

Bakrie Telecom Dengan Icon+ Jalin Kerja Sama

Denpasar (ANTARA) - PT Bakrie Telecom, Tbk (BTEL) dan PT Indonesia Comnets Plus (ICON+) menjalin kerja sama interkoneksi untuk kawasan timur Indonesia.

"Dengan kesepakatan ini Bakrie Telecom menjadi operator telekomunikasi pertama yang membuka jaringan interkoneksinya dengan ICON+," kata Direktur Corporate Services PT BTEL Rakhmat Junaidi dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Denpasar, Kamis.

Ia menjelaskan, penandatanganan kerja sama interkoneksi ini merupakan langkah awal bagi kedua pihak untuk mempersiapkan diri saling membuka trafik interkoneksi.

"Selain itu berjalannya interkoneksi ini juga memiliki arti penting bagi penyediaan akses telekomunikasi pedesaan di kawasan timur Indonesia mengingat ICON+ menjadi pelaksana tender program USO (Universal Service Obligation) untuk desa berdering dan desa pinter di kawasan tersebut," katanya.

Pada kesepakatan yang ditandatangani oleh Rakhmat Junaidi dengan Direktur Utama PT ICON+ Muljo Adji AG ini disebutkan bahwa pembukaan interkoneksi meliputi Provinsi Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua dan Irian Barat.

Muljo berharap, langkah kooperatif Bakrie Telecom ini bisa diikuti oleh operator lainnya sehingga penyediaan layanan telekomunikasi bagi masyarakat perdesaan, khususnya di kawasan timur Indonesia dapat segera terwujud.

Rakhmat Junaidi melanjutkan, sejatinya penyediaan interkoneksi merupakan kewajiban setiap operator telekomunikasi sesuai amanat dalam Undang-Undang Telekomunikasi. Interkoneksi adalah keterhubungan antarjaringan dari penyelenggara telekomunikasi yang berbeda.

"Pembukaan interkoneksi akan memberi manfaat positif bagi semua pihak, yakni bagi masyarakat karena mereka dapat berkomunikasi dengan pelanggan operator manapun, bagi perusahaan sendiri karena akan mendorong pertumbuhan trafik sekaligus peningkatan pendapatan dan bagi industri telekomunikasi karena meningkatkan teledensitas telepon di Indonesia," ujarnya.

Selain itu, katanya, kerja sama ini merupakan wujud dari komitmen kepatuhan kedua perusahaan terhadap Undang-undang Telekomunikasi. Undang-Undang tersebut, khususnya pasal 25 ayat 1 dan 2 menyebutkan bahwa setiap penyelenggara jaringan telekomunikasi berhak untuk mendapatkan interkoneksi dari penyelenggara jaringan telekomunikasi lainnya.

"Selain itu mereka juga wajib menyediakan interkoneksi apabila diminta," kata Rakhmat.

Selasa, Maret 09, 2010

"Kiamat" Bukan 2012 Tapi 2013

LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) memperkirakan puncak siklus badai matahari bukan terjadi pada 2012. Peristiwa yang kerap dihubungkan dengan 'hari kiamat' itu bakal terjadi pada Oktober 2013.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Aplikasi Geomagnet dan Magnet Antarika Lapan Clara Yono Yantini pada sosialisasi mengenai Fenomena Cuaca Antariksa 2012 hingga 2015 di Kampus Universitas Udayana, Jl Sudirman, Denpasar, Selasa (9/3/2010). Sosialisasi ini dihadiri puluhan ilmuwan dari Asia Tenggara, Jepang dan Rusia.

Perkiraan ini berbeda dengan isu kiamat 2012 yang diramalkan Suku Maya. Masyarakat pun banyak menghubungjan antara badai matahari tersebut dengan isu kiamat 2012.

"Siklus matahari terjadi pada rentang waktu 2010-2015. Puncak siklusnya, menurut perkiraan Lapan, terjadi pada bulan Oktober 2013. Penelitian oleh negara lain juga memperkirakan terjadi pada pertengahan 2013," kata Clara yang juga sebagai Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa Lapan.

Lapan menjelaskan badai matahari akan mundur pada 2013 karena hingga saat ini belum menemukan tanda-tanda adanya aktivitas matahari yang ekstrim sebagai puncak siklus.

Siklus matahari terjadi rata-rata sekitar 11 tahun. Siklus ini menunjukkan adanya masa awal, puncak dan akhir siklus. Saat ini, matahari sedang mengalami siklus ke-24. Saat, puncak aktivitas matahari terjadi ledakan besar di matahari.

"Ini tentu mempengaruhi kondisi cuaca antarika, termasuk menyebabkan gangguan di Bumi," kata Clara.

Efek akibat aktivitas puncak matahari ini menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Suhu bumi akan meningkat dan iklim berubah. Partikel-partikel matahari yang menembus lapisan atmosfer bumi akan mempengaruhi cuaca dan iklim bumi. Dampak yang paling ekstrim menyebabkan kemarau panjang. "Ini yang masih dikaji para peneliti," ujar Clara.


DetikCom